Tampilkan postingan dengan label Data Haul Auliya'. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Data Haul Auliya'. Tampilkan semua postingan

30 Juni 2012

HAUL AL-HABIB ABDUL QADIR ASSEGAF AYAHANDA HABIB SYEKH AA (08/07/2012)


(AHAD PAGI, JAM 08, 08/07/2012)

* INFO INI SEBAGAI PENGUMUMAN SEKALIGUS UNDANGAN *

Al Habib Abdul Qadir Bin Abdurrohman Assegaf
adalah ayahanda Al-Habib Syekh Assegaf 
Pengasuh Majlis Ta'lim dan Sholawat 
"AHBAABUL MUSTHOFA" 
Beliau Al Habib Abdul qadir assegaf wafat 
dalam keadaan sujud terakhir didalam Masjid "ASSEGAF" solo, 
sewaktu sebagai Imam Sholat Jum'at. 

19 Desember 2011

HAUL AKBAR K.AGENG KAFILUDDIN,KH.MUNAWWAR KHOLIL & MASYAYIKH DI PP.ALMARAM MENDURAN GROBOGAN

HAUL AKBAR K.AGENG KAFILUDDIN,
KH.MUNAWWAR KHOLIL & MASYAYIKH MENDURAN GROBOGAN


ACARA DI PP.AL MARAM MENDURAN INI MERUPAKAN ACARA TAHUNAN.
YANG DILAKSANAKAN SETIAP TANGGAL 27 MUHARRAM.
INSYAALLOH UNTUK RANGKAIAN ACARA TAHUN INI.
AKAN DIBUKA/DIMULAI PADA:

HARI: SELASA s/d JUM'AT 20 DESEMBER 2011
====================================
JAM: 13.00 WIS.
- IFTITAHUL HAUL, AKAN BAROKAHI OLEH:
BELIAU AL HABIB ALWI BIN HASAN AL IDRUS (SOLO).

JAM: 14.00 WIS, TGL 20/12/2011 s/d 23/12/2011
- DILANJUT DENGAN ACARA KHOTMIL QUR'AN
(OLEH 155 JAMA'AH BINNADHOR & 230 BIL GHOIB).

HARI: JUM'AT KLIWON 23 DESEMBER 2011
==================================
JAM: 18.30 WIS (BA'DAL MAGHRIB).
- QIRO'ATUL QOSHOID, OLEH:
1.UST.NIZAR (PEKALONGAN)
2.AL MUQTASIDAH (LANGITAN)
3.AL MUHIBBIN (PP.ALMARAM MENDURAN)

JAM: 20.00 WIS (BA'DAL ISYA').
-TAHLIL UMUM, IMAM OLEH:
AL HABIB HUSEIN BIN HASAN AL IDRUS (SOLO)

JAM: 21.00 WIS s/d SELESAI
-MAULID AKBAR, INSYAALLOH AKAN DIBAROKAHI, OLEH:
AL HABIB SYEKH BIN ABDUL QADIR ASSEGAF (SOLO)
AL HABIB MUHSIN SYARIF AL HABSYI (SOLO)
BESERTA JAMA'AH SHOLAWAT SE-KAB.GROBOGAN & SEKITARNYA.
DAN JAMA'AH DZIKIR & SHOLAWAT "AHBAABUL MUSTHOFA".

JAM: 22.00 WIS s/d SELESAI
-MAUIDHOTUL HASANAH/TAUSIYYAH, OLEH:
1. AL HABIB UMAR BIN AHMAD AL MUTHOHAR,SH (SEMARANG)
2. AL HABIB JAMAL BIN THOHA BA'AGHIL (MALANG)

INFORMASI INI SEBAGAI PENGUMUMAN SEKALIGUS UNDANGAN.

*************** TERBUKA UNTUK UMUM *****************

KOMPAS LOKASI ACARA:
1. Dari Semua arah (Kudus, Pati, Blora) => POM BENSIN GETASREJO => kearah barat 1km, ada pertigaan ke selatan ke Desa Menduran (Lokasi acara).
2. Dari Pasar Induk Purwodadi Kota ke arah Utara 300 M, melintasi Jembatan Gantung (Lokasi Acara)

08 Maret 2011

HAUL AL HABIB 'ALI BIN MUHAMMAD AL HABSYI (SHOHIBUL SIMTHUD DUROR)

I N F O HAUL S O L O :
Waktu: 26 Maret jam 09:00 (SIANG) - 27 Maret jam 05:30 (BA'DA SUBUH)
Tempat: MASJID "RIYADH" GURAWAN PASAR KLIWON.
JL. KAPT MULYADI (Jurusan solo - Wonogiri)
SOLO JAWA TENGAH INDONESIA
===========================

Al-Habib Al-Imam Al-Allamah Ali bin Muhammad bin Husin Al-Habsyi.

(Berikut ini adalah riwayat hidup penyusun kitab maulid Simthud durar yang diambil dari situs alawiyin).
Al-Habib Al-Imam Al-Allamah Ali bin Muhammad bin Husin Al-Habsyi dilahirkan pada hari Jum’at 24 Syawal 1259 H di Qasam, sebuah kota di negeri Hadhramaut. Beliau dibesarkan di bawah asuhan dan pengawasan kedua orang tuanya: ayahandanya Al-Imam Al-Arif Billah Muhammad bin Husin bin Abdullah Al-Habsyi dan ibundanya As-Syarifah Alawiyyah binti Husain bin Ahmad Al-Hadi Al-Jufri, yang pada masa itu terkenal sebagai seorang wanita yang solihah yang amat bijaksana.

12 Juni 2010

AL HABIB 'ALI BIN MUHAMMAD AL HABSYI -SHOHIBUL SIMTHUD DUROR-

Bimbingan dan asuhan beliau seperti ini telah memberinya hasil kepuasan yang tak terhingga dengan menyaksikan banyak sekali di antara murid-muridnya yang berhasil mencapai apa yang dicitakannya, kemudian meneruskan serta menyiarkan ilmu yang telah mereka peroleh, bukan sahaja di daerah Hadhramaut, tetapi tersebar luas di beberapa negeri lainnya - di Afrika dan Asia, termasuk di Indonesia.
Di tempat-tempat itu, mereka mendirikan pusat-pusat dakwah dan penyiaran agama, mereka sendiri menjadi perintis dan pejuang yang gigih, sehingga mendapat tempat terhormat dan disegani di kalangan masyarakat setempat. Pertemuan-pertemuan keagamaan diadakan pada berbagai kesempatan. Lembaga-lembaga pendidikan dan majlis-majlis ilmu didirikan di banyak tempat, sehingga manfaatnya benar-benar dapat dirasakan dalam ruang lingkup yang luas sekali.
Beliau meninggal dunia di kota Seiwun, Hadhramaut, pada hari Ahad 20 Rabi’ul Akhir 1333 H dan meninggalkan beberapa orang putera yang telah memperoleh pendidikan sebaik-baiknya dari beliau sendiri, yang meneruskan cita-cita beliau dalam berdakwah dan menyiarkan agama.
Di antara putera-putera beliau yang dikenal di Indonesia ialah puteranya yang bungsu: Al-Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi, pendiri Masjid "Riyadh" di kota Solo (Surakarta). Beliau dikenal sebagai pribadi yang amat luhur budi pekertinya, lemah-lembut, sopan-santun, serta ramah-tamah terhadap siapa pun terutama kaum yang lemah, fakir miskin, yatim piatu dan sebagainya. Rumah kediamannya selalu terbuka bagi para tamu dari berbagai golongan dan tidak pernah sepi dari pengajian dan pertemuan-pertemuan keagamaan.Beliau meninggal dunia di kota Palembang pada tanggal 20 Rabi’ul Awal 1373 H dan dimakamkan di kota Surakarta. Banyak sekali ucapan Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi yang telah dicatat dan dibukukan, di samping tulisan-tulisannya yang berupa pesan-pesan ataupun surat-menyurat dengan para ulama di masa hidupnya, juga dengan keluarga dan sanak kerabat, kawan-kawan serta murid-murid beliau, yang semuanya itu merupakan perbendaharaan ilmu dan hikmah yang tiada habisnya.
Dan di antara karangan beliau yang sangat terkenal dan dibaca pada berbagai kesempatan di mana-mana termasuk di kota-kota di Indonesia, ialah risalah yang berisi kisah Maulid Nabi Besar Muhammad SAW dan diberinya judul "Simthud Duror Fi Akhbar Maulid Khairil Basyar wa Ma Lahu min Akhlaq wa Aushaf wa Siyar (Untaian Mutiara Kisah Kelahiran Manusia Utama, Akhlak, Sifat dan Riwayat Hidupnya).

24 November 2009

Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf (Gresik)


Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf lahir di desa Besuki ( jawa timur ) sekitar tahun 1864 M. Sejak kecil telah menjadi yatim namun bakat kewaliaan dan kecintaan terhadap ilmu sudah nampak sejak umur 3 tahun. Hati beliau telah mendapat cahaya Ladunni dari alloh SWt ini terbukti ketika beliau masih berumur 3 tahun telah mampu mengingat berbagai peristiwa dan kejadian yang telah menimpa dirinya.

Usia 8 tahun tepatnya tahun 1856 M Habib Abubakar dikirim oleh ibunya ke tanah leluhurnya di Sewun tarim Yaman Selatan. Di sana beliau di asuh dan dididik oleh pamannya Habib Syech bin Umar assegaf seorang Tokoh Ulama termasyhur di kota Sewun. Kecerdasan dan kejernihan Hati yang di miliki habib Abubakar Assegaf mampu menguasai beberapa bidang ilmu walaupun usianya masih relatif muda. Pamannya tak segan-segan mengajak keponakannya untuk menghadiri majlis majlis ilmu di kota Sewun dan menanamkan rasa kecintaan terhadap Alloh SWT dengan mengajari prilaku prilaku shalafus Sholeh seperti Sholat Tahajut dan puasa puasa sunnah.
Di sewun habib Abubakar assegaf belajar juga kepada Habib Ali bin Muhammad Al habsyi ( pengarang Simtut Durror) dan menjadi murid kesayangannya. Pertama kali melihat Habib Abubakar assegaf , Habib Ali bin Muhammad al habsyi telah melihat tanda-tanda kewaliaan dan kelak akan menjadi ulama yang memiliki kedudukan dan derajat yang Mulia. Beliau juga belajar kepada al Habib Muhammad bin Ali Assegaf, al Habib Idrus bin Umar al-Habsyi, al Habib Ahmad bin Hasan al-Atthas, al Habib Abdurrahman al-Masyhur, juga putera beliau al Habib Ali bin Abdurrahman al-Masyhur, dan juga al Habib Syekh bin Idrus al-Idrus dan masih banyak lagi guru beliau yang lainnya.
Tahun 1881 M habib Abubakar Assegaf kembali ke Tanah air dan Mulai melakukan ritual dakwahnya. Walaupun beliau memiliki Ilmu yang cukup mumpuni namun kerendahan hati untuk menghargai para ulama-ulama Sepuh di tanah air beliau tak segan segan untuk belajar dan minta ijazah serta barokah dari para ulama-ulama sepuh seperti Habib Abdullah bin Muhsin al-Atthas, al Habib Abdullah bin Ali al-Haddad, al Habib Ahmad bin Abdullah al-Atthas, al Habib Abubakar bin Umar bin Yahya, al Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi,al Habib Muhammad bin Ahmad al-Muhdlar, dan lain sebagainya.
Selama beberapa tahun berdakwah datanglah kegundahan hatinya , kerinduan terhadap Alloh dan Rosulnya hingga akhirnya beliau mengasingkan diri dari hirup pikuk dunia dan selama itu pula di habiskan waktunya untuk beribadah mutlak kepada Alloh , hampir 15 tahun lamanya habib Abu bakar Assegaf mengasingkan diri dari dunia ( berkhalwat) hingga akhirnya Gurunya habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi menemuinya dan mengajaknya untuk berhenti berkhalwat dan kembali untuk berdakwah. Demi menghargai sang guru akhirnya Habib Abubakar Assegaf kembali melanjutkan dakwahnya . Dengan di rangkul dan di gandeng oleh gurunya habib Muhammad bin Idrus Al Habsyi , habib Abubakar Assegaf di kenalkan kepada para Jama’ah dam murid muridnya “Ini al Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf termasuk mutiara berharga dari simpanan keluarga Ba ‘Alawi, kami membukanya agar bisa menularkan manfaat bagi seluruh manusia”. Habib Abubakar assegaf membuka Majlis Ta’lim di rumahnya. Kedalaman dan kejernihan hati yang dimilikinya telah melahirkan banyak murid murid yang memiliki kedudukan tinggi di masyarakat. Beliau selalu mendoakan murid-muridnya tat kala beliau menunaikan sholat malam . habib Abubakar di samping sebagai ahli ilmi juga sebagai ahli berkah yang dapat memberikan keberkahan kepada siapapun yang datang kepadanya. Beliau menjadi rujukan dan referensi ilmu di tanah air. Tahun 1955 dalam usia 91 tahun habib Abubakar bin Muhammad assegaf wafat dan beliau dimakamkan di Kota Gresik jawa timur.

08 Juni 2009

KH. M.Salman Dahlawi Popongan


Habib Syekh Bin AA saat bersama KH. Salman Dahlawi 
di Pendopo Kabupaten Purwodadi Grobogan dalam Acara "Grobogan BerSholawat"





Begitu pembacaan Surah Al-Fil genap sebelas kali, hujan pun mulai reda. Bahkan tak lama kemudian berhenti sama sekali. Dan rembulan kembali muncul terang benderang.
Ketika gerakan reformasi mulai bergulir, ditandai dengan lengser-nya Presiden Soeharto, pergolakan dan kerusuhan merebak di mana-mana. Dan, ketika situasi semakin memanas, Nahdlatul Ulama merasa perlu mengajak seluruh warga nahdliyin untuk menggelar istighatsah, berdoa bersama memohon pertolongan Allah SWT.Ketika itu warga nahdliyin di Klaten, Jawa Tengah, tak mau ketinggalan, menggelar istighatsah di Masjid Roudlotush Sholihin. Malam itu ribuan kaum muslimin berkumpul di masjid terbesar di Klaten itu, yang terletak di tengah perkampungan industri cor logam Batur.

Ketika istighatsah akan dimulai, tiba-tiba turun hujan yang sangat amat lebat, sehingga para jama'ah kalang kabut. Saat itulah terdengar suara yang santun dan bersahaja dari seorang kiai, seketika itu pula suasana menjadi hening seakan akan jama'ah bagaikan terhipnotis. Melalui pengeras suara beliau mengajak seluruh jama'ah membaca surah Al-Fil sebelas kali, Setiap kali sampai pada kata tarmihim dibaca pula sebelas kali. Meski gelisah karena mulai kebasahan, dengan serempak para jama'ah membaca surah Al-Fil bersama-sama. Ajaib!!! Begitu pembacaan surah itu genap sebelas kali, hujan pun mulai reda. Bahkan tak lama kemudian berhenti sama sekali. Dan rembulan kembali muncul terang benderang. Para jama'ah berdecak kagum dan terheran-heran. Sebagian berbisik, ”Iki merga karomahe Kiai.” (Ini lantaran karomah Kiai).
Para jama'ah yakin, meski semua kejadian tersebut tak lepas dari kehendak dan izin Allah, kemujaraban doa tidak hanya karena bacaannya, tapi juga yang lebih penting siapa yang membaca. Kiai yang memimpin bacaan Surah Al-Fil itu tiada lain adalah K.H. Muhammad Salman Dahlawi, pengasuh Pondok Pesantren Al-Manshur, Popongan, Klaten Jawa Tengah, pesantren tertua di Klaten.

Kiai kelahiran 1936 ini juga dikenal sebagai guru musryid Thoriqoh Naqsyabandiyah Khalidiyyah, yang ratusan ribu muridnya tersebar di Nusantara khususnya Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, dan beberapa tempat di Sumatra.
MBAH/YAI SALMAN begitu para santri/khalayak umum akrab menyebut nama beliau. adalah anak lelaki tertua K.H. M. Mukri bin K.H. Kafrawi, dan cucu lelaki tertua K.H. M. Manshur, pendiri pesantren yang sekarang diasuhnya. K.H. M. Manshur adalah putra Syekh Muhammad Hadi Girikusumo Mranggen, salah seorang khalifah Syekh Sulaiman Zuhdi, mursyid atau guru pembimbing Thoriqoh Naqsyabandiyah Khalidiyyah di Mekah.

Sebagai cucu lelaki tertua, Yai Salman memang dipersiapkan oleh kakeknya, K.H. M. Manshur yang di kalangan pesantren Jawa Tengah termasyhur sebagai aulia' untuk melanjutkan tugas sebagai pengasuh pesantren sekaligus mursyid Thoriqoh Naqsyabandiyah Khalidiyyah.
Pada 1953, ketika Yai Salman berusia 19 tahun, sang kakek yang wafat dua tahun kemudian, membaiatnya sebagai mursyid. Sorogan Bandongan Untuk menambah bekal keilmuan, Yai Salman nyantri ke pesantren pimpinan K.H. Khozin di Bendo, Pare, Kediri, Jawa Timur. selama kurang lebih empat tahun (1956-1960). Tapi, sebulan sekali ia masih sempat nyambangi pesantren yang diasuhnya di Popongan, yang selama ia mondok di Kediri diasuh oleh ayahnya. Sebelum menjadi mursyid, Yai Salman menimba ilmu di Madrasah Mamba’ul Ulum Solo dan beberapa kali nyantri pasan pengajian Ramadhan kepada K.H. Ahmad Dalhar Watu Congol Magelang Jawa Tengah.
Sejak 21 Juni 1980, Pesantren Popongan berganti nama menjadi Pondok Pesantren Al-Manshur untuk mengenang pendirinya, sekaligus peresmian yayasannya. Seperti di pesantren lain, semula santri yang datang hanya untuk nyantri dan ngaji dengan sistem sorogan dan bandongan (sistem pengajian tradisional di pesantren). Baru pada 1963 didirikan beberapa lembaga pendidikan formal mulai dari Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Diniyah, Madrasah Aliyah, dan terakhir Taman Kanak-kanak Al-Manshur (1980).

Saat ini Pesantren Al-Manshur terdiri dari tiga bagian: pesantren putra, pesantren putri, dan pesantren sepuh yang diikuti sejumlah orang tua yang menjalani suluk, yaitu laku atau amalan thoriqoh. Berbagai kegiatan ditata ulang. Program tahfidzul Qur’an, menghafal Al-Quran misalnya, ditangani oleh K.H. Ahmad Jablawi (kakak misan Kiai Salman) sekaligus ia mengasuh santri putri. Sementara pengelolaan madrasah formal diserahkan kepada K.H. Nasrun Minallah adik Kiai Salman. Kiai Salman sendiri mengasuh santri putra dan santri sepuh.
Untuk mengantisipasi perkembangan zaman, kiai yang dikaruniai tiga putra dan lima putri dari istri pertama Mu’ainatun Sholihah ini juga telah menyiapkan proses kaderisasi dan regenerasi. Dan sejak tahun 2001 ia menikahi istri kedua Siti Aliyah, sepeninggal istri pertama yang wafat pada tahun 2000.

Sejak itu beliau juga memulai proses regenerasi dengan melibatkan putra-putrinya dalam pengelolaan pesantren.Belakangan, seiring dengan usianya yang kian lanjut, Kiai Salman menyiapkan kader pribadi baik sebagai pengasuh pesantren maupun mursyid thariqah yaitu Gus Multazam, 35 tahun. Sebab, belakangan kondisi fisik kiai yang tawadhu’ ini memang agak lemah. Maka Gus Multazam, putra ketujuh yang lahir di Mekah inilah, yang tampil sebagai badal (pengganti) dalam beberapa pengajian. Misalnya dalam pengajian fikih di hadapan para santri sepuh setiap hari Selasa.Figur Kiai Salman amat bersahaja, ramah dan tawadhu’.
Pada bulan Ramadan 1425 H lalu, beliau genap berusia 70 tahun.
Ketika berbicara dengan para tamu, Kiai Salman lebih sering menundukkan kepala, sebagai wujud sikap rendah hati. Tak jarang, bahkan ia sendiri yang membawa baki berisi air minum dari dalam rumah untuk disuguhkan kepada para tamunya.Seperti halnya para ulama, semakin sepuh justru semakin banyak yang sowan memohon doa restu atau nasihat. Demikian juga dengan Kiai Salman, kian hari kian banyak kaum muslimin dari berbagai daerah, dan berbagai kalangan, yang sowan kepadanya. Baik untuk konsultasi pribadi, bertanya masalah agama, maupun sekadar silaturahmi minta doa restu. Bagaikan pohon, semakin tua semakin rindang, semakin banyak pula orang bernaung dari sengatan mentari di bawah rimbunan dedaunan.


*tulisan ini adalah karya KHM. Nawawi Syafi’i,
Batur - Ceper - Klaten - Jawa Tengah, yang pernah di muat di Alkisah ed.12 2005

POPULER DI BACA

Mengonfigurasi HTML/JavaScript