08 Juni 2009

DAWUH HABIB UMAR BIN HAFIDZ

> Penuhilah hatimu dengan kecintaan terhadap saudaramu niscaya akan menyempurnakan kekuranganmu dan mengangkat derajatmu di sisi Allah
> Barang siapa Semakin mengenal kepada allah niscaya akan semakin takut.
> Barang siapa yang tidak mau duduk dengan orang beruntung, bagaimana mungkin ia akan beruntung dan barang siapa yang duduk dengan orang beruntung bagaimana mungkin ia tidak akan beruntung.
> Barang siapa menjadikan kematiaannya sebagai pertemuan dengan sang kekasih (Allah), maka kematian adalah hari raya baginya.
> Barang siapa percaya pada Risalah (terutusnya Rasulullah), maka ia akan mengabdi padanya. Dan barang siapa percaya pada risalah, maka ia akan menanggung (sabar) karenanya. Dan barang siapa yang membenarkan risalah, maka ia akan mengorbankan jiwa dan hartanya untuknya.
> Kedekatan seseorang dengan para nabi di hari kiamat menurut kadar perhatiannya terhadap dakwah ini.
> Betapa anehnya bumi, semuanya adalah pelajaran. Kukira tidak ada sejengkal tanah di muka bumi kecuali di situ ada ibrah (pelajaran) bagi orang yang berakal apabila mau mempelajarinya. > Sebaik-baik nafsu adalah yang dilawan dan seburuk-buruk nafsu adalah yang diikuti.
> Tanpa menahan hawa nafsu maka manusia tidak akan sampai pada Tuhannya sama sekali dan kedekatan manusia terhadap Allah menurut kadar pembersihan jiwanya.
> Jikalau sebuah hati telah terbuka, maka akan mendapatkan apa yang diinginkan.
> Barang siapa yang mempunyai samudra ilmu kemudian kejatuhan setetes hawa nafsu, maka hawa nafsu itu akan merusak samudra tersebut.
> Sesaat dari saat-saat khidmat (pengabdian), lebih baik daripada melihat arsy dan seisinya seribu kali.
> Menyatunya seorang murid dengan gurunya merupakan permulaan di dalam menyatunya dengan Rasulullah SAW. Sedangkan menyatunya dengan Rasulullah SAW merupakan permulaan untuk fana pada Allah (lupa selain Allah)
> Manusia di setiap waktu senantiasa terdiri dari dua golongan, golongan yang diwajahnya terdapat tanda-tanda dari bekas sujud dan golongan yang di wajahnya terdapat tanda-tanda dari bekas keingkaran.
> Barang siapa yang menuntut keluhuran, maka tidak akan peduli terhadap pengorbanan.
> Sesungguhnya di dalam sujud terdapat hakikat yang apabila cahanya turun pada hati seorang hamba, maka hati tersebut akan sujud selama-lamanya dan tidak akan mengangkat dari sujudnya.
> Beliau RA berkata tentang dakwah, Yang wajib bagi kita yaitu harus menjadi daI dan tidak harus menjadi qodli atau mufti (katakanlah wahai Muhammad SAW inilah jalanku, aku mengajak kepada Allah dengan hujjah yang jelas aku dan pengikutku) apakah kita ikut padanya (Rasulullah) atau tidak ikut padanya? Arti dakwah adalah memindahkan manusia dari kejelekan menuju kebaikan, dari kelalaian menuju ingat kepada Allah, dan dari keberpalingan kembali menuju kepada Allah, dan dari sifat yang buruk menuju sifat yang baik.
> Syetan itu mencari sahabat-sahabatnya dan Allah menjaga kekasih-kekasih-Nya.
> Apabila ibadah agung bagi seseorang maka ringanlah adap (kebiasaan) baginya dan apabila semakin agung nilai ibadah dalam hati seseorang maka akan keluarlah keagungan adat darinya. > Bila benar keluarnya seseorang (di dalam berdakwah), maka ia akan naik ke derajat yang tinggi.
> Keluarkanlah rasa takut pada makhluk dari hatimu maka engkau akan tenang dengan rasa takut pada kholiq (pencipta) dan keluarkanlah berharap pada makhluk dari hatimu maka engkau akan merasakan kenikmatan dengan berharap pada Sang Kholiq.
> Banyak bergurau dan bercanda merupakan pertanda sepinya hati dari mengagungkan Allah dan tanda dari lemahnya iman.
> Hakikat tauhid adalah membaca Al Qur’an dengan merenungi artinya dan bangun malam.
> Tidak akan naik pada derajat yang tinggi kecuali dengan himmah (cita-cita yang kuat).
> Barang siapa memperhatikan waktu, maka ia akan selamat dari murka Allah.
> Salah satu dari penyebab turunnya bencana dan musibah adalah sedikitnya orang yang menangis di tengah malam.
> Orang yang selalu mempunyai hubungan dengan Allah, Allah akan memenuhi hatinya dengan rahmat di setiap waktu.
( Disusun oleh : Ust Ja’far Sodiq Al Munawwar )

KH. M.Salman Dahlawi Popongan


Habib Syekh Bin AA saat bersama KH. Salman Dahlawi 
di Pendopo Kabupaten Purwodadi Grobogan dalam Acara "Grobogan BerSholawat"





Begitu pembacaan Surah Al-Fil genap sebelas kali, hujan pun mulai reda. Bahkan tak lama kemudian berhenti sama sekali. Dan rembulan kembali muncul terang benderang.
Ketika gerakan reformasi mulai bergulir, ditandai dengan lengser-nya Presiden Soeharto, pergolakan dan kerusuhan merebak di mana-mana. Dan, ketika situasi semakin memanas, Nahdlatul Ulama merasa perlu mengajak seluruh warga nahdliyin untuk menggelar istighatsah, berdoa bersama memohon pertolongan Allah SWT.Ketika itu warga nahdliyin di Klaten, Jawa Tengah, tak mau ketinggalan, menggelar istighatsah di Masjid Roudlotush Sholihin. Malam itu ribuan kaum muslimin berkumpul di masjid terbesar di Klaten itu, yang terletak di tengah perkampungan industri cor logam Batur.

Ketika istighatsah akan dimulai, tiba-tiba turun hujan yang sangat amat lebat, sehingga para jama'ah kalang kabut. Saat itulah terdengar suara yang santun dan bersahaja dari seorang kiai, seketika itu pula suasana menjadi hening seakan akan jama'ah bagaikan terhipnotis. Melalui pengeras suara beliau mengajak seluruh jama'ah membaca surah Al-Fil sebelas kali, Setiap kali sampai pada kata tarmihim dibaca pula sebelas kali. Meski gelisah karena mulai kebasahan, dengan serempak para jama'ah membaca surah Al-Fil bersama-sama. Ajaib!!! Begitu pembacaan surah itu genap sebelas kali, hujan pun mulai reda. Bahkan tak lama kemudian berhenti sama sekali. Dan rembulan kembali muncul terang benderang. Para jama'ah berdecak kagum dan terheran-heran. Sebagian berbisik, ”Iki merga karomahe Kiai.” (Ini lantaran karomah Kiai).
Para jama'ah yakin, meski semua kejadian tersebut tak lepas dari kehendak dan izin Allah, kemujaraban doa tidak hanya karena bacaannya, tapi juga yang lebih penting siapa yang membaca. Kiai yang memimpin bacaan Surah Al-Fil itu tiada lain adalah K.H. Muhammad Salman Dahlawi, pengasuh Pondok Pesantren Al-Manshur, Popongan, Klaten Jawa Tengah, pesantren tertua di Klaten.

Kiai kelahiran 1936 ini juga dikenal sebagai guru musryid Thoriqoh Naqsyabandiyah Khalidiyyah, yang ratusan ribu muridnya tersebar di Nusantara khususnya Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, dan beberapa tempat di Sumatra.
MBAH/YAI SALMAN begitu para santri/khalayak umum akrab menyebut nama beliau. adalah anak lelaki tertua K.H. M. Mukri bin K.H. Kafrawi, dan cucu lelaki tertua K.H. M. Manshur, pendiri pesantren yang sekarang diasuhnya. K.H. M. Manshur adalah putra Syekh Muhammad Hadi Girikusumo Mranggen, salah seorang khalifah Syekh Sulaiman Zuhdi, mursyid atau guru pembimbing Thoriqoh Naqsyabandiyah Khalidiyyah di Mekah.

Sebagai cucu lelaki tertua, Yai Salman memang dipersiapkan oleh kakeknya, K.H. M. Manshur yang di kalangan pesantren Jawa Tengah termasyhur sebagai aulia' untuk melanjutkan tugas sebagai pengasuh pesantren sekaligus mursyid Thoriqoh Naqsyabandiyah Khalidiyyah.
Pada 1953, ketika Yai Salman berusia 19 tahun, sang kakek yang wafat dua tahun kemudian, membaiatnya sebagai mursyid. Sorogan Bandongan Untuk menambah bekal keilmuan, Yai Salman nyantri ke pesantren pimpinan K.H. Khozin di Bendo, Pare, Kediri, Jawa Timur. selama kurang lebih empat tahun (1956-1960). Tapi, sebulan sekali ia masih sempat nyambangi pesantren yang diasuhnya di Popongan, yang selama ia mondok di Kediri diasuh oleh ayahnya. Sebelum menjadi mursyid, Yai Salman menimba ilmu di Madrasah Mamba’ul Ulum Solo dan beberapa kali nyantri pasan pengajian Ramadhan kepada K.H. Ahmad Dalhar Watu Congol Magelang Jawa Tengah.
Sejak 21 Juni 1980, Pesantren Popongan berganti nama menjadi Pondok Pesantren Al-Manshur untuk mengenang pendirinya, sekaligus peresmian yayasannya. Seperti di pesantren lain, semula santri yang datang hanya untuk nyantri dan ngaji dengan sistem sorogan dan bandongan (sistem pengajian tradisional di pesantren). Baru pada 1963 didirikan beberapa lembaga pendidikan formal mulai dari Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Diniyah, Madrasah Aliyah, dan terakhir Taman Kanak-kanak Al-Manshur (1980).

Saat ini Pesantren Al-Manshur terdiri dari tiga bagian: pesantren putra, pesantren putri, dan pesantren sepuh yang diikuti sejumlah orang tua yang menjalani suluk, yaitu laku atau amalan thoriqoh. Berbagai kegiatan ditata ulang. Program tahfidzul Qur’an, menghafal Al-Quran misalnya, ditangani oleh K.H. Ahmad Jablawi (kakak misan Kiai Salman) sekaligus ia mengasuh santri putri. Sementara pengelolaan madrasah formal diserahkan kepada K.H. Nasrun Minallah adik Kiai Salman. Kiai Salman sendiri mengasuh santri putra dan santri sepuh.
Untuk mengantisipasi perkembangan zaman, kiai yang dikaruniai tiga putra dan lima putri dari istri pertama Mu’ainatun Sholihah ini juga telah menyiapkan proses kaderisasi dan regenerasi. Dan sejak tahun 2001 ia menikahi istri kedua Siti Aliyah, sepeninggal istri pertama yang wafat pada tahun 2000.

Sejak itu beliau juga memulai proses regenerasi dengan melibatkan putra-putrinya dalam pengelolaan pesantren.Belakangan, seiring dengan usianya yang kian lanjut, Kiai Salman menyiapkan kader pribadi baik sebagai pengasuh pesantren maupun mursyid thariqah yaitu Gus Multazam, 35 tahun. Sebab, belakangan kondisi fisik kiai yang tawadhu’ ini memang agak lemah. Maka Gus Multazam, putra ketujuh yang lahir di Mekah inilah, yang tampil sebagai badal (pengganti) dalam beberapa pengajian. Misalnya dalam pengajian fikih di hadapan para santri sepuh setiap hari Selasa.Figur Kiai Salman amat bersahaja, ramah dan tawadhu’.
Pada bulan Ramadan 1425 H lalu, beliau genap berusia 70 tahun.
Ketika berbicara dengan para tamu, Kiai Salman lebih sering menundukkan kepala, sebagai wujud sikap rendah hati. Tak jarang, bahkan ia sendiri yang membawa baki berisi air minum dari dalam rumah untuk disuguhkan kepada para tamunya.Seperti halnya para ulama, semakin sepuh justru semakin banyak yang sowan memohon doa restu atau nasihat. Demikian juga dengan Kiai Salman, kian hari kian banyak kaum muslimin dari berbagai daerah, dan berbagai kalangan, yang sowan kepadanya. Baik untuk konsultasi pribadi, bertanya masalah agama, maupun sekadar silaturahmi minta doa restu. Bagaikan pohon, semakin tua semakin rindang, semakin banyak pula orang bernaung dari sengatan mentari di bawah rimbunan dedaunan.


*tulisan ini adalah karya KHM. Nawawi Syafi’i,
Batur - Ceper - Klaten - Jawa Tengah, yang pernah di muat di Alkisah ed.12 2005

26 Mei 2009

BETAPA INDAH & NIKMATNYA BILA MENYATU DALAM KEBERKAHAN


GETAR SHOLAWAT DI KOTA SOLO

Hidup adalah pengembaraan di atas samudera luas.
Tiada hari tanpa digoyang gelombang. Belum lagi tiupan badai, yang tak jarang membuat seseorang berputus asa.
Penuntun itu adalah petunjuk Allah Ta'alaa melalui Rasul-Nya,
Nabi Muhammad Shollallohu 'alaihi wassallam.
Ajaran beliau adalah kompas hidup terbaik.
Apapun yang terjadi sholawat tetap tumbuh subur didalam hati.
Tanpa hadirnya beliau NABI didunia ini, hidup di kehidupan ini pasti tiada arti.
YAA ROBBY SHOLLI 'ALAA MUHAMMAD
WAFTAH MINAL KHOIRI KULLA MUGHLAQ

Amin Amin Yaa Robbal 'alamiin

27 Februari 2009

URIP MUNG SAKDERMO



Urip kuwi sejatine yo mung sadermo ngelakoni. Bungahing ati ora biso dikiro-kiro, semono ugo tekane susah yo ora biso dikiro-kiro. Dadi sejatine, titah kuwi yo koyo wayang sing diobahake karo dalang. Dalang sing sejatine dalang ora ono maneh kejaba gusti Allah kang akarya jagad. Ing samubarang gawe lan ing samubarang kahanan sing dadi kasunyatan urip, mestine kudu dilakoni kanti sabar, sukur, lilo lan legowo. Ora ono maneh, yo mung kuwi. Hananging, titah kuwi ugo diparingi pilihan soko gusti Allah. Sakabehing tumindak, pangucap, pangroso, prakaryo kudu dinalar piye carane supoyo biso dadi apik, sing sejatine sakabehing doyo kuwi yo soko paringane gusti Allah. Arep ngalor ngidul ngetan ngulon, yo gusti Allah sing ngobahake. Dadi sepisan maneh, urip ki mung sadermo ngelakoni. Sopo kang bisa ngelakoni kanti lilo legowo, yo iku sejatine suwargone gusti Allah ing alam donya.Ya Allah paringono sabar, sukur, lilo lan legowo.


[cah.AM.com]


15 Februari 2009

BERDIRINYA AHBAABUL MUSTHOFA PURWODADI

Sholawat simthudduror, Sholawat kedamaian.
Resume Hasil Musyawaroh Ahbabul Musthofa Kabupaten Grobogan. Yang dipimpin langsung oleh Beliau Habib Syekh Bin Abdul Qodir Assegaff, pada tanggal 17 Desember 2004.
Bertempat di Rumah Gus Dhuha [PP. Al-Masyhuri Purwodadi Grobogan].

1. Pembentukan dan Penetapan Susunan nama pelaksana maulid selapanan di Masjid Agung Baitul Makmur
2. Penetapan Pelaksanaan Maulid selapanan setiap malam Jum'at wage malam Sabtu Kliwon dimulai jam 20.00 s/d 22.00
3. Penetapan nama Majlis Maulid dengan nama “AHBABUL MUSTHOFA”
4. Acara diawali dengan pembacaan Rotibul Haddad dan Maulid Simthuddurror.
5. Diharapkan Pengurus melakukan sosialisasi ke daerah-daerah
6. Diperlukan Humas/Korwil dimasing-masing kecamatan.

Semoga kepengurusan yang ada sekarang dan berikutnya bisa selalu mengembangkan Jama'ah Dzikir & Mawlid "AHBAABUL MUSTHOFA" Kab. Grobogan. Sekaligus bisa memakmurkan "Masjid Agung Baitul Makmur" dan Masjid yang lain di Kab. Grobogan.
(Di susun oleh Ust.Edy Rustandi, sekretaris pertama AM Purwodadi Grobogan)

SEPUTAR ACARA DAN LAPANAN AHBAABUL MUSTHOFA

JADWAL KEGIATAN LAPANAN AHBAABUL MUSTHOFA [JAWA TENGAH]

* PENGAJIAN RUTIN MALAM KAMISAN "AHBAABUL MUSTHOFA PUSAT" :
===========================================================
Di MARKAS BESAR AM (Ndalem Guru Mulia Al Habib Syekh AA),
Lokasi/Alamat : Jl.Bengawan Solo 6, No.12, Semanggi Kidul Solo.

* PENGAJIAN RUTIN LAPANAN 'AHBAABUL MUSTHOFA' di Daerah (Kabupaten) :
==============================================================

1- Majlis FOSMIL ( Ahad Legi 08.30 WIB)
di Masjid ASSEGAF Solo.

2- Purwodadi ( Malam Sabtu Kliwon )
di Masjid Agung Baitul Makmur Purwodadi-Grobogan.

3- Kudus ( Malam Rabu Pahing )
di Halaman Masjid Agung Kudus.

4- Jepara ( Malam Sabtu Legi )
di Halaman Masjid Agung Baitul Makmur Jepara .

5- Sragen ( Malam Ahad Pahing )
di Masjid Assakinah, Puro Asri, Sragen.

6- Jogjakarta ( Malam Jum'at Pahing )
di Halaman PP. Minhajuttamyiz Timoho, belakang IAIN.

7- Solo ( Malam Ahad Legi )
di Halaman Masjid Agung Surakarta.

Sudah saatnya untuk tidak malu,
Sudah saatnya untuk tidak gengsi,
Sudah saatnya untuk tidak surut,
selalu bersholawat dalam menjunjung, memuji dan meniru Nabi Muhammad SAW.
agar beliau mengakui kita sebagai umatnya yang selalu Cinta dan di Cintai.
sehingga kita memperoleh syafaatnya di dunia maupun akhirat.
oleh karena itu percuma saja kalau kita mengaku sebagai umat-NYA,
tetapi tidak pernah bersholawat atas Beliau Nabi Muhammad SAW.

- SHOLLU 'ALAN NABI MUHAMMAD !!! -

POPULER DI BACA

Mengonfigurasi HTML/JavaScript